Selasa, 24 Maret 2026

TAUSIYAH : KISAH IBNU UMAR DAN SEORANG PENGGEMBALA

Hadirin yang dirahmati Allah swt,

Pada kesempatan singkat ini mari kita renungkan betapa agungnya akhlak kejujuran dalam Islam. Kejujuran bukan hanya menyelamatkan kita di dunia, tetapi juga di akhirat.

Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 119):

 

Bersama orang-orang yang benar disini yaitu bersama orang-orang yang yang benar, jujur dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya. Maka dari itu, dekatilah orang yang berperilaku jujur dan jauhi orang yang sering berbohong, karena kita akan mempunyai sifat dengan sifat apa yang ada di lingkungan kita.

Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Jauzi rahimahullah dalam Kitab Sifatush-Shafwa, 2/188.

·      Nafi berkata, “Aku pergi bersama Ibnu Umar ke beberapa daerah di pinggir kota. Ikut pula beberapa orang, lalu mereka membuka hidangan untuk makan. Kemudian seorang anak penggembala melewati mereka.

·      Maka Ibnu Umar berkata kepadanya, “Ayo nak, mari makan.”

·      Anak tersebut berkata, “Saya sedang puasa.”

·      Lalu Ibnu Umar berkata, “Pada hari panas seperti ini sedangkan engkau sedang menggembala kambing di antara pegunungan, engkau berpuasa?”

·      Sang anak menjawab, “Aku ingin memanfaatkan waktu yang senggang.”

·      Ibnu Umar terpesona dengan anak tersebut, lalu dia berkata, “Apakah engkau bersedia menjual seekor kambing dari gembalamu, lalu akan kami sembelih dan kamu akan kami berikan makan dengan dagingnya lalu kami akan berikan uangnya.”

·      Dia berkata, “Ini bukan milik saya, tapi milik tuan saya.”

·      Ibnu Umar berkata, “Bukankah engkau dapat mengatakan kepadanya bahwa seekor serigala telah memangsanya.”

·      Lalu sang anak tersebut pergi sambil mengangkat jarinya ke langit seraya berkata, “Di mana Allah?”

·      Maka Ibnu Umar selalu mengulang-ulang perkataan, “Si penggembala berkata, ‘Di mana Allah?’.

·      Maka setelah tiba di Madinah, beliau mengirim utusan kepada tuan anak tersebut untuk membeli budak tersebut beserta gembalanya, lalu sang budak dimerdekakan dan hewan ternaknya diberikan kepadanya. Semoga Allah merahmatinya.” [Sifatu Ash-Shafwah, 2/188]

Kisah ini mengandung pelajaran, di antaranya :

1.        Seruan bersikap dermawan. Ibnu Umar tidak hanya hendak makan-makan dengan teman-temannya tanpa mengajak sang penggembala yang lewat di depannya. Tapi dia mengajaknya untuk makan bersama mereka. Maka seorang anak yang dermawan, jika dia membawa makanan ke sekolah, atau saat berwisata, maka dia seharusnya mengajak teman-temannya dan menawarkan mereka untuk makan bersama.

2.        Jujur karena merasa diawasi Allah swt, Kejujuran sejati bukan karena takut manusia, tetapi karena yakin Allah swt selalu melihat. Inilah makna iman yang hidup.

3.        Amanah harus dijaga walau tidak ada yang melihat, Penggembala menolak menjual kambing karena itu bukan miliknya. Ini mengajarkan bahwa menjaga titipan adalah bagian dari keimanan.

4.        Kejujuran membawa keberkahan, Karena jujur, penggembala yang tadinya budak justru mendapat kemerdekaan dan harta. Allah swt membalas kejujuran dengan kemuliaan.

5.        Adapula pelajaran lain yang sangat bermanfaat, yaitu membangun hubungan kepada Allah swt, rasa takut kepada-Nya baik sendiri maupun ramai, menumbuhkan perasaan selalu diawasi dalam diri. Sebagaimana ungkapan sang penyair

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pentingnya kita mempunyai sifat jujur. Jujur sekecil apapun. Baik saat bersama teman di asrama di sekolah maupun saat di rumah. Jika kita sudah sering melakukan kebohongan dalam berperilaku sekecil apapun jika terus dilakukan maka kita akan menjauh dari apa yang namanya Jujur. Dan sebaiknya bercanda pun tidak dibenarkan jika berbohong.

Terlebih lagi, berbohong termasuk ke dalam ciri-ciri orang Munafik. Seperti pada hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Dari Abi Hurairah RA Rasulullah Shallahu’alaihi Wasallam berkata Tanda-tanda orang Munafiq ada tiga: Apabila berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” Di riwayatkan oleh Imam Bukhari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar