Selasa, 24 Maret 2026

KISAH SAHABAT NABI : ZUBAIR BIN AWWAM

Zubair bin Awwam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat istimewa. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 594 M dari keluarga bangsawan Quraisy, Bani Asad. Ibunya adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi Muhammad SAW, sehingga Zubair merupakan sepupu Nabi. Sejak muda, Zubair dikenal cerdas, pemberani, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Ia memeluk Islam pada usia 15 tahun melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keputusannya memeluk Islam membuatnya disiksa oleh keluarganya sendiri. Pamannya pernah menggantungnya dan membakar tubuhnya dengan api agar ia meninggalkan Islam, namun Zubair tetap teguh dan berkata, “Aku tidak akan kembali pada kekufuran selamanya!

Zubair termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW (al-‘Asyrah al-Mubasysyirin bil Jannah). Ia adalah orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah, saat mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW diserang oleh kaum Quraisy. Keberaniannya telah terbukti dalam berbagai peperangan penting, seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya. Dalam Perang Badar, Zubair berada di garis depan dan membunuh banyak tokoh Quraisy. Ia mengenakan sorban kuning yang khas dan mendapatkan pujian langsung dari Nabi Muhammad SAW. Di Perang Uhud, ketika pasukan Muslim tercerai-berai, Zubair tetap berada di sisi Nabi, menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa. Dalam Perang Khandaq, ia juga menunjukkan keberanian luar biasa ketika ditugaskan menyusup ke benteng musuh. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap nabi memiliki hawariyy (pendukung setia), dan hawariyy-ku adalah Zubair.”

Zubair bukan hanya pejuang, tapi juga seorang yang bijak. Ia adalah bagian dari dewan syura yang dibentuk Umar bin Khattab untuk memilih khalifah setelahnya. Meskipun termasuk dalam enam sahabat pilihan, Zubair mengundurkan diri dari pencalonan dan menyerahkan dukungannya kepada Ali bin Abi Thalib. Namun, setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, fitnah besar melanda umat Islam. Zubair sempat bergabung dengan Aisyah dalam Perang Jamal karena ingin menuntut keadilan atas kematian Utsman. Namun sebelum pertempuran dimulai, Ali bin Abi Thalib mengingatkan Zubair tentang sabda Nabi Muhammad SAW bahwa suatu saat ia akan memerangi Ali dalam keadaan zalim. Zubair terkejut dan langsung meninggalkan medan perang untuk menghindari pertumpahan darah. Namun dalam perjalanan pulang, ia dibunuh secara licik oleh Ibnu Jurmuz di Wadi Siba’. Ketika mendengar kabar tersebut, Ali bin Abi Thalib menangis dan berkata, “Berilah kabar kepada pembunuh anak Shafiyyah bahwa ia akan masuk neraka!

Zubair bin Awwam adalah sosok yang memiliki banyak keutamaan. Ia adalah sahabat yang dijamin masuk surga, pejuang paling berani, pendukung setia Nabi, dan seorang ayah dari Abdullah bin Zubair, salah satu tokoh besar dalam generasi tabi’in. Keteladanan Zubair mengajarkan kepada kita tentang keteguhan iman sejak muda, keberanian yang dilandasi keikhlasan, kesetiaan terhadap kebenaran, serta kerendahan hati dalam menghindari fitnah. Kisah hidupnya merupakan inspirasi besar bagi setiap Muslim yang ingin hidup dengan kehormatan dan mati dalam ridha Allah.

TAUSIYAH : KISAH IBNU UMAR DAN SEORANG PENGGEMBALA

Hadirin yang dirahmati Allah swt,

Pada kesempatan singkat ini mari kita renungkan betapa agungnya akhlak kejujuran dalam Islam. Kejujuran bukan hanya menyelamatkan kita di dunia, tetapi juga di akhirat.

Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 119):

 

Bersama orang-orang yang benar disini yaitu bersama orang-orang yang yang benar, jujur dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya. Maka dari itu, dekatilah orang yang berperilaku jujur dan jauhi orang yang sering berbohong, karena kita akan mempunyai sifat dengan sifat apa yang ada di lingkungan kita.

Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Jauzi rahimahullah dalam Kitab Sifatush-Shafwa, 2/188.

·      Nafi berkata, “Aku pergi bersama Ibnu Umar ke beberapa daerah di pinggir kota. Ikut pula beberapa orang, lalu mereka membuka hidangan untuk makan. Kemudian seorang anak penggembala melewati mereka.

·      Maka Ibnu Umar berkata kepadanya, “Ayo nak, mari makan.”

·      Anak tersebut berkata, “Saya sedang puasa.”

·      Lalu Ibnu Umar berkata, “Pada hari panas seperti ini sedangkan engkau sedang menggembala kambing di antara pegunungan, engkau berpuasa?”

·      Sang anak menjawab, “Aku ingin memanfaatkan waktu yang senggang.”

·      Ibnu Umar terpesona dengan anak tersebut, lalu dia berkata, “Apakah engkau bersedia menjual seekor kambing dari gembalamu, lalu akan kami sembelih dan kamu akan kami berikan makan dengan dagingnya lalu kami akan berikan uangnya.”

·      Dia berkata, “Ini bukan milik saya, tapi milik tuan saya.”

·      Ibnu Umar berkata, “Bukankah engkau dapat mengatakan kepadanya bahwa seekor serigala telah memangsanya.”

·      Lalu sang anak tersebut pergi sambil mengangkat jarinya ke langit seraya berkata, “Di mana Allah?”

·      Maka Ibnu Umar selalu mengulang-ulang perkataan, “Si penggembala berkata, ‘Di mana Allah?’.

·      Maka setelah tiba di Madinah, beliau mengirim utusan kepada tuan anak tersebut untuk membeli budak tersebut beserta gembalanya, lalu sang budak dimerdekakan dan hewan ternaknya diberikan kepadanya. Semoga Allah merahmatinya.” [Sifatu Ash-Shafwah, 2/188]

Kisah ini mengandung pelajaran, di antaranya :

1.        Seruan bersikap dermawan. Ibnu Umar tidak hanya hendak makan-makan dengan teman-temannya tanpa mengajak sang penggembala yang lewat di depannya. Tapi dia mengajaknya untuk makan bersama mereka. Maka seorang anak yang dermawan, jika dia membawa makanan ke sekolah, atau saat berwisata, maka dia seharusnya mengajak teman-temannya dan menawarkan mereka untuk makan bersama.

2.        Jujur karena merasa diawasi Allah swt, Kejujuran sejati bukan karena takut manusia, tetapi karena yakin Allah swt selalu melihat. Inilah makna iman yang hidup.

3.        Amanah harus dijaga walau tidak ada yang melihat, Penggembala menolak menjual kambing karena itu bukan miliknya. Ini mengajarkan bahwa menjaga titipan adalah bagian dari keimanan.

4.        Kejujuran membawa keberkahan, Karena jujur, penggembala yang tadinya budak justru mendapat kemerdekaan dan harta. Allah swt membalas kejujuran dengan kemuliaan.

5.        Adapula pelajaran lain yang sangat bermanfaat, yaitu membangun hubungan kepada Allah swt, rasa takut kepada-Nya baik sendiri maupun ramai, menumbuhkan perasaan selalu diawasi dalam diri. Sebagaimana ungkapan sang penyair

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pentingnya kita mempunyai sifat jujur. Jujur sekecil apapun. Baik saat bersama teman di asrama di sekolah maupun saat di rumah. Jika kita sudah sering melakukan kebohongan dalam berperilaku sekecil apapun jika terus dilakukan maka kita akan menjauh dari apa yang namanya Jujur. Dan sebaiknya bercanda pun tidak dibenarkan jika berbohong.

Terlebih lagi, berbohong termasuk ke dalam ciri-ciri orang Munafik. Seperti pada hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Dari Abi Hurairah RA Rasulullah Shallahu’alaihi Wasallam berkata Tanda-tanda orang Munafiq ada tiga: Apabila berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” Di riwayatkan oleh Imam Bukhari.