Zubair termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW (al-‘Asyrah al-Mubasysyirin bil Jannah). Ia adalah orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah, saat mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW diserang oleh kaum Quraisy. Keberaniannya telah terbukti dalam berbagai peperangan penting, seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya. Dalam Perang Badar, Zubair berada di garis depan dan membunuh banyak tokoh Quraisy. Ia mengenakan sorban kuning yang khas dan mendapatkan pujian langsung dari Nabi Muhammad SAW. Di Perang Uhud, ketika pasukan Muslim tercerai-berai, Zubair tetap berada di sisi Nabi, menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa. Dalam Perang Khandaq, ia juga menunjukkan keberanian luar biasa ketika ditugaskan menyusup ke benteng musuh. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap nabi memiliki hawariyy (pendukung setia), dan hawariyy-ku adalah Zubair.”
Zubair bukan hanya pejuang, tapi juga seorang yang bijak. Ia adalah bagian dari dewan syura yang dibentuk Umar bin Khattab untuk memilih khalifah setelahnya. Meskipun termasuk dalam enam sahabat pilihan, Zubair mengundurkan diri dari pencalonan dan menyerahkan dukungannya kepada Ali bin Abi Thalib. Namun, setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, fitnah besar melanda umat Islam. Zubair sempat bergabung dengan Aisyah dalam Perang Jamal karena ingin menuntut keadilan atas kematian Utsman. Namun sebelum pertempuran dimulai, Ali bin Abi Thalib mengingatkan Zubair tentang sabda Nabi Muhammad SAW bahwa suatu saat ia akan memerangi Ali dalam keadaan zalim. Zubair terkejut dan langsung meninggalkan medan perang untuk menghindari pertumpahan darah. Namun dalam perjalanan pulang, ia dibunuh secara licik oleh Ibnu Jurmuz di Wadi Siba’. Ketika mendengar kabar tersebut, Ali bin Abi Thalib menangis dan berkata, “Berilah kabar kepada pembunuh anak Shafiyyah bahwa ia akan masuk neraka!”
Zubair bin Awwam adalah sosok yang memiliki banyak keutamaan. Ia adalah sahabat yang dijamin masuk surga, pejuang paling berani, pendukung setia Nabi, dan seorang ayah dari Abdullah bin Zubair, salah satu tokoh besar dalam generasi tabi’in. Keteladanan Zubair mengajarkan kepada kita tentang keteguhan iman sejak muda, keberanian yang dilandasi keikhlasan, kesetiaan terhadap kebenaran, serta kerendahan hati dalam menghindari fitnah. Kisah hidupnya merupakan inspirasi besar bagi setiap Muslim yang ingin hidup dengan kehormatan dan mati dalam ridha Allah.

